Beberapa tahun ini saat datang malam tahun baru jawa 1 Suro biasanya selalu ada hal menarik yang bisa kujadikan bahan wacana. ya… setidaknya pada saat malam 1 suro tersebut akan ada arak-arakan kirab budaya dan doa bersama yang biasa dilakukan oleh paguyuban Tritunggal. Disamping ada budaya Muter Beteng, Tapa mBisu saya memang lebih senang melihat kirab budaya ini. cukup menarik dan atraktif. Berbagai macam kebudayaan di Indonesia mulai ditampilkan melalui representasi busana dan orang-orang dari daerah setempat. Rangkaian kirab inipun biasanya akan diakhiri dengan acara doa bersama dan santap bersama tanda pengharapan baru di tahun yang akan ditempuh. Keragaman ini seolah-olah menjadikan kenyataan konflik dan kekacauan yang sering terjadi di negara ini menjadi lebur oleh pengharapan baru. Dan memang, untuk beberapa hal… Kota Yogyakarta masih mampu untuk meredam saat terjadi konflik budaya / ras sehingga masyarakat masih bisa lebih tenang dibanding tempat lain.
Lain dari biasanya….
saya juga tidak begitu tahu jelas, mengapa malam 1 Suro kali ini ditempa dengan hujan deras, sehingga saya tidak punya keinginan untuk terlibat menikmati dan mengabadikan proses yang cukup unik tersebut. Entah karena jopa’japu-nya kurang OK atau bagaimana, yang jelas biasanya untuk urusan event macam ini biasanya cuaca cerah merekah.
Akhirnya..
malam tahun baru itupun tidak begitu membangun kesan. dan shutter speed D50ku pun tak jadi meluncurkan citra-citra positif.
Lain dari hari itu, selang 2 hari setelahnya ternyata hingar bingar yang semula tidak aku rencanakan untuk kuikuti terjadi. Berawal dari agenda yang berubah karena sebelumnya ada retret di wisma salam dan kemudian ‘sang kekasih’ merengek ditemani nonton pertunjukkan akhirnya akupun menikmati hingar bingar yang telah lama tidak aku nikmati.
Singkat kata, aku nonton konser 11 januari-nya GIGI yang sekaligus menjadi event ulangtahunnya INDOSIAR.
Tidak ada yang istimewa dari konser itu selain padat, penuh, panas, pusing dan sekedar menemani ‘sang kekasih’ .


